Translate

Tampilkan postingan dengan label ciliwoeng institute. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ciliwoeng institute. Tampilkan semua postingan

Rabu, Desember 28, 2011

Narsisme Gubernur DKI Jakarta dan Peringatan Ancaman Banjir yg Mundur Selama 1 th (Des 2011 - Januari 2011)

Peningkatan kesadaran yang dibangun oleh Pemda DKI Jakarta dirasa kurang menyentuh bahkan menggugah warga Jakarta untuk waspada dan bersiap untuk melakukan pengelolaan bencana alam yaitu banjir 5 tahunan Ciliwung.
Media penyampaian pesan memang dianggap efektif yaitu dengan menggunakan spanduk digital print berukuran kurang lebih sekitar 1m x 5m yang diletakan dibanyak titik maupun di beberapa kelurahan yang terkena dampak banjir 5 tahunan ciliwung.
Namun konten dari pesan tersebut lebih terkesan narsis dan bodoh, pihak Pemda DKI Jakarta tidak serius menanggapi siklus 5 tahunan ciliwung yang tidak dapat dibendung maupun ditolak. Ilustrasi penyampain pesan malah berantakan, pada sudut kanan dan kiri spanduk tersebut terpampang foto gubernur dan wakilnya. Pesan yang disampaikan berupa “WASPADAI BAHAYA BANJIR 5 TAHUNAN, DIPERKIRAKAN DAPAT TERJADI PADA DESEMBER 2011 / JANUARI 2011″.
Namun komposisi dan konten penulisan pesan malah terlihat sepele. Mari kita bandingkan; foto gubernur fauzi bowo yang berukuran kurang lebih sekitar 1meter dan begitu juga dengan wakilnya terlihat jelas dan tidak boleh salah untuk peletakannya. Padahal semua orang tahu gubernur kita bernama fauzi bowo. Walaupun sempat saya menemuka seorang warga DKI Jakarta yg pernah mendebat saya bahwa “bang foke” adalah gubernurnya, bukan “fauzi bowo” yang menjadi gubernur, tapi “fauzi bowo tuh Wakil gubernur”.

Tragis memang, setelah sekian tahun memimpin Jakarta ternyata masih saja ada warganya yg masih membedakan “fauzi bowo versus foke yang berebut tempat menjadi gubernur dan wakil gubernur”, Sedih rasanya menjadi warga Jakarta jika tidak mengetahui siapa yang memimpin.
Menurut saya pribadi hal ini terjadi apakah karna warganya yang bodoh dan tidak kenal siapa abang kita yang menjadi gubernur atau karna abang gubernur kita yang kurang merakyat. Sampai-sampai saya harus menegaskan dalam perdebatan kecil bahwa “fauzi bowo dan foke adalah orang yang sama namun berbeda nasib, yang satu jadi gubernur DKI Jakarta dan yang satunya lagi jadi Wakil gubernur”. Cukup sudah kita berdebat dengan cara berbicara ataupun menulis siapa yang jadi gubernur DKI Jakarta?


Kembali lagi kepada pesan yang coba disampaikan untuk bahaya banjir 5 tahunan ciliwung, Jika kita melihat secara seksama pesan tersebut maka saya pribadi melihat bahwa pesan ini tak lebih dari sifat narsis manusia yang dianggap bahwa sifat narsis tersebut adalah manusiawi dan mendera gubernur kita dan wakilnya.
Harusnya pesan tentang ancaman tersebut lebih tepat dengan membuat ilustrasi maupun foto yang dengan jelas memaparkan gambaran bahwa banjir 5 tahunan amatlah merugikan. Dengan memvisualisasikan pesan tersebut benar secara komposi & konten maka akan timbul pertanyaan bagi pembaca pesan tersebut yang memicu otak dan mengasah nalurinya untuk bersiap diri bahwa banjir tersebut harus bisa ditanggulangi.
Atau dengan pencapaian lain bahwa warga yang terkena dampak banjir 5 tahunan tidak lagi harus tergantung kepada nasi bungkus yang diberikan oleh perseorangan maupun lembaga swasta dan pemerintah yaitu dengan cara warga secara guyub maupun komunitas membuat dapur umum di tempat pengungsian masing-masing yang kemudian mereka kelola sendiri secara mandiri dalam kondisi darurat yang temporer maupun jangka panjang dalam penanggulangan bencana.

 Memang membangun kesiap siagaan masyarakat dalam menanggulangi bencana tidaklah semudah membalik telapak tangan. Namun jika pendekatannya dikembalikan kepada komunitas lokal yang ada di wilayah tersebut maka hal ini tidaklah mustahil. Jika kita ingat-ingat kembali bahwa siklus banjir 5 tahunan ciliwung sudah berulang kali terjadi maka warga setidaknya sedikit banyak akan menyadari bahwa banjir 5 tahunan tersebut tidak dapat dipungkiri. Namun setidaknya mereka mengalami proses belajar secara alamiah dan kolektif saat banjir melanda, dan hal ini bisa dijadikan bahan dasar Pemda DKI Jakarta untuk melakukan pendekatan kepada warga untuk melakukan program pembelajaran penanggulang bencana banjir secara berkelanjutan sehingga saat banjir melanda pihak Pemda DKI Jakarta tidak perlu memusingkan diri untuk lari dari tanggung jawabnya sebagai pemerintah dan meletakan beban tersebut kepada warga dengan argumentasi “kali semakin kecil”, “warga yang tinggal di bantaran sungai tidak mau direlokasi”, “banyak sampah yang dibuang ke sungai sehingga menjadi sedimet dan membuat pendangkalan sungai”, dan alasan lainnya yang bisa dianggap bahwa ketidak mampuan Pemda berasal dari masyarakatnya sendiri.

Sambil bekata penutup aparatur Pemda DKI Jakarta berkata: ini diluar batas kemampuan Pemda DKI Jakarta, terserah kalian menganggap adil atau tidak? Masalah atau bukan. Yang penting kami sudah melempar kesalahan ini kepada anda warga Jakarta, Depok dan Bogor yang tinggal dan berdampingan dengan kali ciliwung.



Kebon pala tanah rendah
(bantaran kali ciliwung)
23 desember 2011.



Fadhel achmad

Rabu, Desember 07, 2011

25 Hari Menuju Siklus 5 Tahunan Sungai Ciliwung

Penghujung tahun hanya tinggal menghitung hari. Awal tahun 2012 akan menyambangi kita, entah benar terjadi kiamat atau tidak, Belum ada yg tau pasti apakah benar terjadi di tahun 2012 nanti.
Kita tidak perlu mengingat jauh mengenai ramalan kiamat yg akan datang pada tahun 2012 dan melupakan siklus 5 tahunan Ciliwung yang takkan pernah terelakan. Kita hanya perlu menghitung hari untuk mengetahui apakah ciliwung akan meluapkan amarahnya yg terpendam selama ini stelah mengendap menjadi pendangkalan sungai dan sediment di bantaran sungai.
Mungkin kita lupa ataupun selalu melupakan bahwa kita masyarakat jakarta hidup berdampingan dengan sungai ciliwung. Ada 72 kelurahan yg berdampingan dan dilintasi oleh sungai ciliwung, yang tentu saja sudah hidup bersama-sama sungai selama puluhan tahun dan mengalami masalah yg sama yaitu banjir siklus lima tahunan ciliwung. Luapan sungai ciliwung yg terekam sejarah kota batavia pada tahun 1918 dan pada tahun sebelumnya membuat pemerintah belanda saat itu memikirkan bagaimana mengelola sungai ciliwung dengan baik dan mempersiapkan diri bersahabat dengan ancaman bencana yg tidak dapat ditolak dengan cara membuat banjir kanal barat agar banjir tersebut dapat dikelola dengan baik.

Jika pada masa pendudukan belanda di batavia menganggap bahwa banjir merupakan hal yang tidak dapat ditolak, mereka meminimalis resiko dengan membuat banjir kanal barat yang dialirkan melalui wilayah selatan jakarta dan merencanakan pembangunan banjir kanal timur dan terhalang biaya sehingga menunda proses pembuatannya. Berbeda halnya dengan pemerintah saat ini yang mempunyai sudut pandang bahwa banjir adalah proyek untuk memperkaya diri ditengah ancaman bencana banjir. Pengelolaan sungai yang tumpang tindih antara lembaga pemerintah, aparat pemerintah lokal (kelurahan,kecamatan dan walikota) yang daerahnya dilintasi oleh sungai ciliwung lebih memilih diam tanpa kata dan tindakan. berpasrah diri menganggap bahwa banjir merupakan takdir yg diciptakan tuhan sehingga mereka tidak perlu memikirkan bagaimana warganya bisa hidup berdampingan dengan ancaman bencana banjir.

Memang banjir tidak dapat ditolak, namun setidaknya pemerintah harus berperan aktif membangun komunikasi bersama komunitas peduli ciliwung maupun komunitas lainnya yg mengangkat isu mengenai ciliwung untuk mengedukasi warga dalam pengelolaan sampah, dan membangun tingkat kesadaran bagaimana mengelola bencana tanpa harus tergantung pada tangan pemerintah yang nyatanya mengambil keuntungan dari bencana banjir.

Yang saya pahami, banjir setiap tahunnya selalu lebih besar dari tahun sebelumnya. Belum lagi permukaan daratan jakarta yg setiap tahunnya menurun sebanyak 3-5 cm/tahun. Jadi wajar saja jika ciliwung meluapkan amarahnya dan menggenangi daerah jakarta dan semakin besar.
Dengan menyadari diri bahwa banjir 2012 yg akan datang kemungkinan akan lebih besar dari banjir jakarta sebelumnya, tidak ada salahnya kita mulai melakukan tindakan untuk meminimalisir banjir tersebut dengan cara tidak membuang sampah ke sungai dan mengkampanyekan lebih aktif lagi kepada tetangga kita untuk “mengembalikan fungsi sungai sebagai sumber kehidupan” sehingga masyarakat jakarta maupun wilayah lain yang dilintasi oleh sungai ciliwung lebih mengerti bagaimana mereka harus mensikapi sungai dalam keseharian mereka.

Jika kita dapat bersahabat dengan alam, maka alampun akan mencintai kita dengan caranya bahkan dia akan memberikan cintanya kepada kita sebagai hubungan timbal balik yang saling menguntungkan.


Green Camp Halimun
6 Desember 2011
Fadhel achmad

Senin, Desember 05, 2011

Mengembalikan Fungsi sungai Ciliwung Sebagai Sumber Kehidupan #International Volunteer Day 2011

"Semangat pagi, selamat datang para relawan dan selamat hari relawan internasional".. Itulah salam yang ku sampaikan pada hari ini untuk memulai pembukaan acara hari relawan internasional 2011 yang kami adakan 1 hari sebelum harinya yaitu tgl 5 des 2011. Peserta yang hadir hari ini memang tidak sebanyak event sebelumnya yaitu nimbrung ciliwung#1. Dengan jumlah lebih dr 200 peserta. 52 orang yang hadir dan menjadi peserta acara ini kurasa cukup, dan yang paling menyenangkan adalah hampir 80% dari jumlah peserta yang hadir adalah rata-rat pelajar.

Tanpa berucap panjang lebar, aku membuka acara tersebut tanpa ketukan palu, gunting pita maupun memecahkan kendi. Hanya diiringi suara tepukan tangan dari peserta. Stelah menjelaskan kembali aktifitas hari ini kepada peserta bahwa rangkain kegiatan hari relawan internasional yaitu: trashbuster atau dengan bahasa keren lainya adalah mulung sampah, rally foto fakta styrofoam dan pemasangan spanduk menggunakan waring, sampah plastik, kantong sampah dengan tulisan pernyataan sikap atau himbauan "CILIWUNG BUKAN TEMPAT SAMPAH" untuk warga sekitar. Trash buster yg dilakukan hari ini hanya dapat mengangkat sampah plastik sebanyak 125kg saja, sedikit memang. Namun stidaknya usaha penyampaian pesan "ciliwung bukan tempat sampah" bisa dilihat langsung oleh warga karna para volunteer yang melakukan mulung sampah melakukan penyusuran sungai jalan kaki menempuh 1 km perjalanan.

Menginjakan kaki di bantaran sungai, menyusuri jalan setapak mencari jejak-jejak sisa peradaban manusia praktis yg bernama sampah plastik. Sebenarnya tanpa dicaripun kita dapat mengambilnya lgsg dbwh telapak kaki kita. Hanya perlu memilih saja sampah yg akan diambil karna memang sampah tersebut sudah menunggu untuk diangkat. usia termuda sampah ada yg dalam hitungan detik,menit maupun jam dan usia tertua yg belum dapat diidentifikasi. saya hanya dapat "berasumsi maupun kira-kira tahunan, puluhan atau ratusan tahun" tidak ada yg dapat menjawab hal tersebut. Namun kita dapat melihat tanggal produksi makanan tersebut (kode produksi,tanggal kadaluarsa) untuk mengetahui pasti brapa usia sampah plastik tersebut. Selain mengidentifikasi plastik dengan cara "kira-kira", para relawan yg hadir juga mencoba mengapresiasi styrofoam dalam rangkaian gambar melalui frame by frame yg digambar melalui cahaya dan diterjemahkan secara digital menjadi sebuah foto, foto yang menceritakan bahwa styrofoam yang kita gunakan menjadi wadah pembungkus makanan ternyata memiliki fakta bahwa sampah styrofoam tersebut tidak dapat terurai dan membahayakan kesehatan.

Selain menjadi sampah, styrofoam juga membahayakan kesehatan sehingga kita mengalami kerugian sebanyak 2 kali dan berdampak panjang terhadap lingkungan dan diri kita sendiri. Bayangkan akumulasi styren (bahan dasar kimia styrofoam) yg kita makan kemudian menumpuk di dalam tubuh kita, Merugikan bukan. Efek dari makan styren menggunakan nasi (baca: nasi panas yg menguap) kemudian memanaskan dinding styrofoam dan uap tersebut menetes kembali ke nasi yg dibungkus di dalam styrofoam lalu kita makan. Maka siapkanlah tubuh anda terserang kanker dalam beberapa tahun berikutnya. Sehingga menggugah kami untuk mengingatkan fakta bahwa styrofoam jangan pernah dijadikan pilihan dalam hidup kita. Untuk kasus pada lingkungan, saya menyepakati bahwa styrofoam tidak dapat terurai. Sehingga pengunaan strofoam harus ditolak dan tidak dijadikan pilihan sebagai barang yang penting dalam hidup kita. Setelah berkeliling mulung sampah dan mendokumentasikan "artis" hari itu yg bernama styrofoam, kami memilih untuk menyelasaikan tugas kami sebagai relawan dengan cara mengitung sampah yg dapat dikumpulkan hari itu sehingga aktifitas hari relawan dianggap sudah terlaksana dan selesai. Walaupun lelah terlihat diwajah para peserta, namun kondisi lokasi yg menyajikan oksigen murni, hamparan hijau dan rindangnya pohon. Seolah dapat menebus dan mengisi ulang tenaga kami yg sudah terkuras. Condet, 4 Desember 2011.

Jumat, Desember 02, 2011

Mengembalikan fungsi sungai ciliwung sebagai sumber kehidupan#2

Jumat, 2 des 2011. Jakarta turun hujan deras di beberapa wilayah, namun dibeberapa wilayah lain hanya rintik gerimis saja. Sehingga menarik hati untuk menikmati guyuran hujan sambil bertelanjang dada.

Slesai shalat jum'at, hujan tak kunjung reda. Setengah jam perjalanan menggunakan angkutan umum akhirnya dapat juga menginjakan kaki di wilayah Condet, Jakarta Timur. ada sedikit perbedaan yg kurasakan ditengah keberadaan ku saat ini di bantaran sungai ciliwung di wilayah condet. Hamparan kebun salak condet yg luasnya tak lebih dari 7000m/persegi menjadi tempat yg baik menjadi ruang terbuka hijau yg bisa dijadikan tempat bermain, belajar dan menghabiskan waktu sambil menikmati guyuran berkah dari langit yg bernama air hujan.

Tanah becek, sedimen lumpur sisa banjir minggu sebelumnya menambah keseruan tersendiri. Seolah menarik ku kedalam dunia sendiri tentang "indahnya ciliwung yg menyajikan ruang terbuka hijau yg ada di Jakarta"

Terkadang dikondisi musim penghujan. aku memilih lari dari kenyataan rutinitas kota Jakarta dan memilih daerah pegunungan untuk menikmati musim penghujan, di wilayah terbuka dengan vegetasi tumbuhan yang teduh dan menyajikan oksigen murni. Lari kecil dan bertelanjang dada, merupakan hal yg menyenangkan saat rintik hujan jatuh dan membasahi tanah.

Rutinitas ku kini menenggelamkan keinginan tersebut. Bagai sebuah belenggu yg mengikat dan tak dapat ditolak. Kebutuhan mengibur diri dengan cara mandi hujan seolah sangat mahal kini. Kalaupun ada hujan terkadang kita hanya bisa menggerutu, bersumpah serapah "sial hujan, anjrit hujan, dan bahasa umpatan lainnya yg mengutuk maupun menyalahkan berkah tersebut". Karna hujan dianggap merugikan banyak pihak dan banyak hal bagi sekian ribu maupun jutaan populasi warga Jakarta.

Namun hujan hari ini memberi kesenangan tersendiri bagi ku pribadi. Berlari sambil telanjang dada, berkeling kebun salak, berteduh di bawah pohon pisang sambil mengamati buah sukun yg jatuh karna memang sudah matang di pohon. Mengamati kumbang pohon yg sedang mengadu asmara memenuhi insting reproduksi, menjaga keseimbangan alam, rantai makanan dan siklus yg berlaku di alam ini khususnya wilayah ekosistem condet.

Kerinduan akan kenangan mandi hujan di bantaran sungai ciliwung memicu ide nakal "mengembalikan fungsi sungai sebagai sumber kehidupan" yaitu berupa ketersediaan ruang terbuka hijau sebagai tempat bermain, belajar sampai sekedar menghabiskan waktu untuk refresh otak kita yg sudah penuh akan kepenatan aktifitas sehari-hari.

Bantaran sungai Ciliwung, Condet, Jakarta Timur.

Kamis, Desember 01, 2011

Mengembalikan fungsi sungai ciliwung sebagai sumber kehidupan

Condet - pasar minggu.Dua wilayah jakarta yg masuk kedalam wilayah administrasi berbeda antara walikota jakarta timur dan jakarta selatan namun dibatasi oleh bentangan sungai yg jaraknya hanya puluhan meter dari satu sisi ke sisi lainnya yaitu condet dan pasar minggu. "Ibarat perbatasan negara amerika n meksiko" (#lebay.dikit.org). Permasalahan bantaran sungai merupakan masalah klasik yg puluhan tahun tidak terjawab maupun ada tindakan yg nyata yaitu berupa pengerukan tempat sampah ilegal sampah maupun penutupan tempat sampah ilegal. Tindakan yg ada saat ini lebih kepada pelemparan tanggung jawab dan wewenang yg saling tumpang tindih dan tidak terselesaikan oleh pemerintah melalui lembaga-lembaga yg didirikan pemerintah maupun perpanjangan tangannya. namun tidak dapat memecahkan problematika sungai ciliwung.

Dibeberapa titik dapat kita temui kebun salak condet, kebun pisang dan kebun bambu yg mempunyai masalah yg sama yaitu pemanfaatan kebun tersebut menjadi lokasi pengumpulan, pembuangan, bahkan lokasi pembakaran sampah yang berada di bantaran sungai.

Untuk mengembalikan fungsi sungai ciliwung sebagai sumber kehidupan, bang kodir mencoba mengajak warga condet yang tinggal di sekitar bantaran sungai berperan aktif dengan cara menanam pohon produktif yang bisa dipanen buah maupun daunnya yg kemudian dijual dan dijadikan tambahan penghasilan oleh masyarakat sekitar. Pengembalian fungsi bantaran sungai sebagai sumber kehidupan setidaknya bisa menjadi proses belajar warga untuk tidak lagi membuang sampah kesungai.

Setidaknya itulah jejak rekaman pengalaman yang kutemui saat menyusuri sungai ciliwung dari condet (komunitas ciliwung condet) menuju stasiun pasar minggu sebelum melanjutkannya menjadi rangkaian kata..
Condet-pasar minggu, 1 des 2011.

Disqus Shortname

Comments system