Translate

Tampilkan postingan dengan label Desa Sarongge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Desa Sarongge. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 01, 2016

Memujudkan Pemilahan Sampah, Mengolah, dan Membangun Kesepakatan Barter Sampah




16/10/16, siang itu keheningan kampung pecah oleh suara perempuan. Putri Subagya, seorang volunteer yang sebelumnya bertugas menjadi Avatar tanah memberanikan dirinya untuk mengajak ibu-ibu warga RT 03 berkumpul dengan menggunakan speaker musolah yang terdapat di wilayah RT 03.

Assalamualaikum, diberitahukan kepada ibu-ibu warga RT 03 untuk berkumpul serta berdiskusi lanjutan untuk program pengolahan sampah di RT 03, lokasi kumpul di rumah sabun. Selang 30 menit dari pengumuman tersebut, satu persatu warga mulai berkumpul di teras rumah sabun.
Assalamualaikum Wr Wb, ucapku membuka pertemuan kelompok ibu. Cuaca siang itu sangat cerah sehingga membawa suasana dinamis bagi kelompok ibu saat berdiskusi. Berkantong-kantong sampah telah dibawa oleh ibu-ibu dalam pertemuan tersebut dibedah serta ditimbang satu persatu. 2,56kg bang, ucap emul saat selesai menimbang sebuah kantong.

Angka timbulan sampah/keluarga di Rt 03, mencapai 1-3kg sampah/keluarga/3 hari. Dari 8 kantong sampel sampah, total sampah yang yang dihasilkan mencapai 20kg.

Setelah penimbangan selesai dan dicatatkan, kantong-kantong sampah tersebut kemudian di periksa dan dipilah. Cara tersebut saya lakukan untuk mengetahui jenis sampah secara spesifik yang dihasilkan oleh rumah tangga. Khususnya rumah tangga petani.

Hayo ini sampah Styrofoam siapa? Hayo ngaku.! Semua orang saling memandang satu sama lainnya, menandakan pencarian, siapakah pemilik sampah terebut?
Tanpa pengakuan dengan ucapan, kita sebetulnya bisa mengetahui sampah tersebut melalui bahasa tubuh. Kita hanya perlu memperhatikan gestur ibu-ibu yang hadir.

Untuk menetralisir tekanan dari pertanyaan tersebut, saya kemudian bertanya kepada ibu-ibu yang hadir dalam diskusi tersebut. Apakah diantara kita yang hadir dalam diskusi ini, mengetahui dampak buruk Styrofoam jika kita gunakan untuk kemasan makanan?

Belom tau mas, jawab ibu-ibu serentak.
Damn.! Ternyata banyak warga yang belom mengetahui betapa berbahayanya dampak penggunaan Styrofoam bagi tubuh. Buat saya, ini Pr besar. Otak jahat saya langsung merespon jauh, bahkan terlalu liar.

Boikot, ya, kita boikot acara di kampung jika tuan rumah menggunakan Styrofoam untuk wadah makanan. Saya kira cara ini bisa diterapkan jika kita mulai memacunya sebagai sebuah sanksi sosial atau sanksi. Namun sebelum hal tersebut dilakukan, pastinya harus dibangun dulu kesepakatan antara warga. Apakah ada cara agar sosialisasi ini bisa dilakukan? Ibu-ibu punya usul?

Ada mas, saya punya usul, bagaimana kalau kita membuat waktu tersendiri bagi kelompok ibu-ibu. Misalnya saat pengajian mingguan atau bulanan RT. Seru ibu RT. Jadwal pengajian bulan besok akan diadakan pada tanggal 6 nov 2016, jam 3 sore. apakah mas Ichay bisa memberikan sosialisasi pada saat pengajian dilakukan. Apakah bisa isi ceramahnya pengajian ibu-ibu membahas tentang Styrofoam?
Bisa, jawabku dengan cepat.

Apakah ada syarat khusus bagi saya untuk mengikuti pengajian tersebut?
Apakah saya harus memakai bergo (kerudung siap pakai) atau pakai mukena?
Ahahahaha, semua ibu tertawa lepas.
Mas Ichay ini ngaco, gak usah pake bergo mas, mas berpenampilan seperti biasa saja, Seperti saat kita bertemu hari ini. Ucap Bu RT.

Terima kasih bu, mari kita lanjutkan obrolan berikutnya, saya mau ngobrolin barter ataupun membeli sampah yang akan kita kumpulkan.

Membangun kesepakatan barter sampah

Barter  sampah, atau praktek jual beli sampah, untuk saat ini, itu merupakan hal yang wajar. Praktek tersebut tentunya harus disesuaikan berdasarkan kesepakatan warga yang ada. Semisal melakukan barter sampah dengan sembako, minyak sayur, mie instan atau bibit sayuran, atau dibayar sekalipun, semua bisa menjadi opsi.

Untuk mengetahui opsi yang akan dipilih, lagi-lagi, urusan ngorek2, trus menjadi pendengar yang baik, kayaknya masih bisa saya lakukan. Kita hanya perlu membuka keran aliran bicara atau penyampaian pendapat kelompok ibu-ibu ini.

Pertanyaan pertama saya, ibu, dari sekian banyak sampah yang dihasilkan, tadi kita sudah liat, kita sudah timbang, bahkan kita sudah bisa memperkirakan sampah harian ibu apa saja? Nah sampah2 yang dikumpulkan tadi, baiknya kita apakan? Kita barter kah? Kita jual kah? Kalau di barter, dengan apa? Silahkan dipikirkan baik-baik. Sebab, apapun Pilihan ibu-ibu nanti, itu akan berpengaruh kepada masa depan, masa depan pengolahan sampah.
Beberapa ibu mengerenyitkan jidadnya, mencoba membaca kebutuhan apa yang bisa di barter dengan sampah.

Detergen, minyak sayur, telur, sembako, bibit sayur. Jenis barang tersebut adalah barrang yang disepakati untuk di barter dengan sampah. Gimana mas Ichay? Tanya seorang ibu.

Saya pikir, jika kita menukar sampah dengan detergen, minyak sayur, mie instan, bibit dan sembako, kegiatan pengumpulan sampah ini akan berjalan dengan baik, saya pribadi bersedia menerima sampah bekas sachet kopi untuk saya buat kreasi, ucap teh Yuyun. pernyataan tersebut kemudian diamini oleh yang lainnya.

Kemudian saya kembali mengajukan pertanyaan, pertanyaan kedua, Bagaimana mekanisme pengumpulannya? Dan apakah sampah yang dikumpulkan nanti sudah terpilah?
Sudah dong, kan tadi syarat sampah laku atau bisa dibarter jika sudah terpilah. Kan tadi mas Ichay yang bilang, sahut teh Yuyun. Untuk pengumpulan sampah, sepertinya kami akan memilah dulu lalu kami kumpulkan, mungkin setelah 7hari, sampah terebut bisa diserahkan ke pengelola yang bertugas menimbang dan mencatatkannya.

Lalu, siapa yang akan menjadi petugas tersebut? Siapa yang akan bertugas menimbang dan mencatat? Bu  etin, jawab warga serentak.

Setelah sampah terkumpul, lalu ditimbang dan dicatat, apakah sampah terebut akan kita kelola disini atau kita bawa ke tempat lain?

Untuk pengumpulan, kita bisa gunakan rumah sabun mas, namun untuk proses pengolahan sampah lanjutan, tampaknya hal tersebut bisa dilakukan di saung Sarongge. Soalnya dulu kan disana pernah ada kelompok pengelola sampah, jadi akan lebih baik lagi jika pengolahan tersebut dilakukan disana, karna akan melibatkan banyak pemuda untuk kegiatan ini. Ucap ibu etin.

Oke, terima kasih informasinya Bu. Saya pikir, diskusi kita hari ini, kita sudahi dulu. Sambil bersiap menyudahi diskusi ini.
Mul, mana peralatan perangmu (timbangan digital), boleh kah timbangan itu diserahkan kepada ibu etin, tanya saya ke pada emul.

Boleh bang, timbangan tersebut segera diterima oleh ibu etin. Wajah emul terlihat sedih, timbangan digital yang baru saja ia pegang sebagai peralatan perang, sudah harus berpindah tangan.

Sambil berjalan pulang, saya mengatakan kepada emul, Mul, peralatan perangmu (timbangan digital) akan dibawa Minggu depan. Syaratnya hanya satu mul, kamu tetap semangat untuk jadi tukang sampah.
Senyum simpul kembali mengembang di wajah emul. Itu menandakan bahwa semangatnya menjadi tukang sampah masih membara. Sambil berjalan pulang, saya kembali menguatkan emul dengan mengatakan bahwa kerja-kerja pengolahan sampah akan semakin mudah jika sampah dari sumbernya sudah terpilah. Emul hanya perlu melakukan pengangkutan dari RT 03 ke bank sampah, lalu melakukan pengolahan sampah lanjutan. Perkataan terebut di jawab anggukan oleh emul. 

Senin, Oktober 31, 2016

Dengarkan, dalami dan temukanlah tautan itu. Membangun kelompok Pengolahan Sampah di Desa Sarongge


Sarongge, 8/10/16, saat matahari sudah berada di peraduan, segelas kopi sebagai pembuka hari merupakan salah satu ritual bagi volunteer trashi untuk menghangatkan suasana diskusi.

Pagi itu, pak jae (Ketua RT 01), kang Bucek, kang yadin, kang nasir, beserta volunteer Trashi yang terdiri dari Nai, Ichay, Rhino, Erik dan Rian, kembali melakukan pendalaman tentang problem pengelolaan sampah.


Dengan gayanya yang supel, nai coba mengajak semua orang untuk lebih dalam menggali problem serta potensi yang ada untuk mensinergikan kerja pengolahan sampah di tiap rt yang menjadi target program pendampingan oleh Trashi.
Nai menyampaikan kepada pak jae bahwa salah satu kelompok yang sudah mulai melakukan pengolahan sampah di Sarongge berada di RT 03.

Dengan raut wajah serius, pak jae melontarkan pertanyaan. Sampah apa saja yang bisa dikelola? Seperti apa hasilnya?
Harapan kami sesungguhnya sangat tinggi untuk mampu mengelola sampah secara mandiri. Namun, kami belom mengerti bagaimana mewujudkannya?
Bagaimana kalau malam nanti berkumpul kembali untuk melanjutkan diskusi ini? sayang kalau hanya saya sendiri yang larut dalam diskusi ini.

Sambil menghabiskan sisa kopinya, pak jae kemudian menutup diskusi ini agar dapat menginformasikan kepada warganya untuk hadir dalam diskusi malam nanti.

Pertemuan Avatar tanah, tukang peta, dan lanskap yang tersaji indah.



Siang ini, dua orang avatar tanah (tim uji kandungan tanah) yang terdiri dari Martin dan putri Tiba, disusul mas rohim kemudian sebagai tukang peta. kehadiran tiga orang relawan ini disambut oleh hamparan lanskap yang indah.

Hembusan angin dari Selatan membawa pergi awan, sehingga barisan perbukitan di bawah kami terlihat dengan jelas. Lanskap kota Cianjur, Bandung terlihat indah dari lokasi kami menghabiskan kopi. Namun, Hamparan lanskap yang indah ini harus dibarter dengan dingin yang menusuk tulang.

Dingin, sore ini terasa lebih dingin dari hari-hari sebelumnya, Ucap nai kepada rohim yang sedang meneguk kopinya. Keduanya kemudian mengutak-atik hp, 18°c ucap nai kepada rohim.  iya, 18°c, rohim mengkonfirmasi, Pantas terasa dingin.

Menjelang Maghrib, suasana saung Sarongge mulai terasa hangat, 13 orang yang berada di dalam saung mulai menghangat kan diri dengan candaan ditengah suasana diskusi sore itu. Dalam diskusi tersebut, saya meminta kesediaan kang bucek untuk mulai mendelegasikan pemuda agar segera menindaklanjuti proses transfer pengetahuan tentang pengolahan sampah yang akan dilakukan untuk warga Sarongge.




Beri saya minimal 2 orang pemuda dan maksimal 5 orang untuk menjadi bagian dari proses transfer pengetahuan pengolahan sampah hingga menjadi tukang sampah,  ucapku kepada kang bucek. Saya khawatir jika saya diberikan 7 orang pemuda, orientasi kami nanti berubah.
Saya khawatir kami malah akan membentuk boi band. Permintaan itu malah disambut tawa oleh kang bucek dkk.

Oke, sebetulnya hal ini ( keterlibatan pemuda lainnya) memang harus segera ditindaklanjuti,  pasca bertanya kepada kang bucek, kang nasir, dan ibu wiwik, bapak Deden menyatakan bahwa mereka akan segera mengirim orang agar bisa belajar tentang mengolah sampah sehingga apa yang direncanakan bisa terjadi.

Hukum pertautan antara petani dan sampah.

Untuk mewujudkan sinergitas antara hal satu dan lainnya, hal dasar yang harus kita ketahui dengan baik adalah hukum pertautan yang ada di sekitar kita. Tautan ini memang tidaklah terlihat kentara, apalagi  jika kita tidak bisa menggalinya dengan baik. Tautan demi tautan tersebut, sebetulnya berada pada satu wilayah yang sama, namun, kita harus bisa menemukannya.

Jika pada pertemuan sebelumnya, salah satu tautan yang telah ditemukan adalah ibu Yuyun. Kini, tautan yang sama juga ditemukan di lingkungan Rt 1, yaitu, bapak Dede. Namun, hal ini hanya diketahui oleh satu orang saja, yaitu ibu Khodijah yang merupakan istri bapak Dede.

Penemuan tautan ini bisa menjadi pelengkap menuju sinergitas pengolahan sampah di Sarongge. Terbukanya tautan memudahkan proses identifikasi, rencana kerja dan penguatan kelompok warga dalam mewujudkan capaian. Salah satu tautan lainnya adalah kebutuhan pupuk organik bagi warga RT 01, berdasarkan keterangan pak jae, kebutuhan pupuk organik di wilayahnya bisa mencapai 500kg per petani dalam satu bulan. Kebutuhan tersebut saat ini lebih banyak di dapatkan dengan membeli dari luar wilayah Sarongge.


Pak jae sebelumnya pernah mencoba membuat pupuk organik sendiri, namun hal tersebut kini tidak dapat dilanjutkan karna tabung komposter yang dia buat dicuri oleh orang.

Saat ditanya apakah dirinya masih bersemangat untuk memproduksi pupuk sendiri, ia pun menyanggupi dengan catatan bahwa kebutuhan peralatan produksi pupuk organik bisa di dapatkan olehnya.

Dalam diskusi bersama warga Rt 01, mengemuka sebuah harapan bahwa warga berharap dapat menyelesaikan pengolahan sampah di lingkungannya sendiri, minimalnya dapat melakukan pengolahan sampah organik untuk dipergunakan kembali pada lahan pertanian masing-masing.

Membangun kesadaran lingkungan pada anak-anak


Siang itu, 9/10/16, tiap anak mengabarkan kepada anak-anak lainnya di lingkungan RT 03. Tiap anak menginformasikan untuk segera membawa sampah rumah yang telah dikumpulkan sebelumnya. Satu persatu kantong plastik berisi sampah dibawa untuk di timbang.

Dengan malu-malu seorang anak membawa sekantong sampah, kemudian ia mendekat kami, lalu ia berkata, Aa, ini sampahnya, silahkan ditimbang. Nanti teman-teman yang lain juga kesini, sekarang mereka sedang pulang untuk mengambil sampah yang telah dikumpulkan.

Tak lama berselang, tiga orang anak lainnya datang dengan membawa kantong sampah masing-masing.
Ayoo cepat sampahnya dibawa, untuk ditimbang, ucap Rhino yang bertugas menjadi penimbang sampah saat itu. Hasil  penimbangan dari delapan orang anak tersebut mencapai 8.99kg.

Setelah selesai melakukan penimbangan sampah, anak-anak kemudian diminta masuk ke dalam rumah kopi untuk mengikuti dongeng yang dibawakan oleh Nusantari.



Ayoooo semua silahkan duduk dengan manis, ucap Nunu. Permintaan tersebut diikuti oleh anak-anak, mereka kini duduk melingkar dengan wajah penuh tanya.
Sejurus kemudian Nunu mulai membuka tas yang di dalamnya berisi peralatan mendongeng. Ayo adik-adik mau mendengar dongeng tentang apa? Kakak punya beberapa cerita yang bisa dibacakan untuk kalian loh. Tapi, kita harus memilih salah satu cerita yang akan dibacakan.
Setelah bersepakat. Anak-anak kemudian memilih buku cerita tentang 3 anak burung yang tinggal di sebuah gunung. Dengan antusias semua anak mengikuti dongeng tersebut, bahkan diantaranya ada yang menganga karna terlalu serius menyimak Dongeng yang dibacakan oleh kak Nunu. Dongeng tersebut berisi sebuah pesan, yaitu, bahwa tidak ada sesuatu hal yang tidak mungkin bisa kita capai jika kita telah mengerjakannya secara bersungguh-sungguh.

Setelah cerita telah selesai dibacakan, kini, kak Nunu meminta kepada anak-anak di untuk mulai menceritakan lingkungannya masing-masing melalui sebuah gambar.
Satu persatu gambar yang telah dibuat oleh anak-anak tersebut diceritakan kembali, Sinta karnia, Mecoba menceritakan lingkungannya. Dia menyambar sebuah rumah yang memiliki pekarangan yang digunakan untuk membakar sampah plastik yang dihasilkan oleh keluarganya.
Setelah bercerita tentang gambar, Nunu mencoba memberikan sebuah informasi kepada anak tersebut bahwa jika kita membakar sampah di rumah, maka asap yang dihasilkan oleh sampah akan berbahaya bagi kita dan lingkungan, jadi, saat ayah, ibu atau saudara kalian ada yang membakar Sampah, nanti kamu informasikan yah, jika asap sampah tersebut akan menimbulkan penyakit jika sampai terhirup. Jadi adik-adik sudah mulai memberitahukan kepada bapak, ibu dan saudaramya bahwa sampah tadi tifak perlu dibuang. Sampah tersebut nanti bisa diserahkan kepada kelompok pengolah sampah.

Gimana adik-adik, setuju? Setuju kak, jawab anak-anak secara bersama-sama.


Tanpa sadar, waktu sudah menunjukkan jam 3 sore. Sebelum menutup kegiatan, kak Nunu memberikan hadiah berupa alat gambar, kak Nunu kemudian berpesan, silahkan digunakan alat gambarnya, silahkan juga informasi tentang bahaya membakar sampah untuk diberitahukan kepada yang lain. Sekarang adik-adik silahkan kembali ke rumah, karna adik-adik kan harus pergi mengaji. Tak lama kemudian anak-anak tersebut berbaris rapih dan menyalami kak Nunu untuk pamit.

Yadin kemudian menyambangi kami di rumah ibu etin. Dia menyatakan bahwa mobil untuk turun kebawah sudah siap. Ayo kang kita pulang, ucap Yadin.

Jangkrik boss, ucap Abah saat kami berpamitan, ucapan tersebut menandakan bahwa acara hari ini berjalan dengan baik.
_____________________________________________

Muka teman nakal saya, silahkan diingat baik-baik, barangkali ketemu dengan mereka.


Supaya teman-teman gak bingung dengan bahasa yang saya gunakan, berikut ini adalah glosarium atau kamus bahasa versi saya :
- Avatar Tanah : tim relawan yang bertugas untuk mengukur kualitas tanah beserta kandungan yang ada di tanah tersebut.
- Tukang Peta : Relawan yang membantu tugas pemetaan wilayah. 

Sabtu, Oktober 29, 2016

Kenali Sampah di Sekitarmu




Rumah kopi Sarongge, menjadi salah satu lokasi keramaian di minggu siang 10/9/16, suara riuh tersebut ditimbulkan oleh suara anak-anak yang mengikuti kelas pengantar mengenal sampah.  15 orang anak dari berbagai usia maupun kelas mencoba mengenal berbagai macam jenis sampah yang mereka hasilkan setiap hari melalui gambar, setelah sebelumnya anak-anak tersebut secara bersama-sama melakukan kegiatan bebersih (mulung) kampung sebagai cara mengidentifikasi sampah yang ada.

Hasil temuan anak-anak tersebut kemudian di dokumentasikan dalam bentuk gambar sederhana sesuai imajinasi anak-anak. tiap kelompok yang mengikuti kegiatan tersebut di dampingi oleh relawan trashi yaitu nai, Erik dan Rhino.

Untuk mengetahui seberapa banyak sampah yang dihasilkan oleh adik-adik yang hadir dalam kegiatan tersebut, nai sebagai fasilitator mencoba mengukur besaran sampah yang dihasilkan oleh adik-adik tersebut melalui besaran uang jajan oleh tiap anak.

Semakin besar uang jajan yang dimiliki oleh tiap anak, semakin banyak sampah yang dihasilkan. Adapun sampah yang dihasilkan oleh tiap anak adalah sebagai berikut, gelas air minum (teh, sirup), botol minuman, kemasan sachet, baik berupa jajanan tradisional maupun jajan warung, Styrofoam, dll.

Dalam sesi ngobrol tersebut, anak-anak juga bercerita bahwa di jalan kampung, pinggiran kebun, banyak ditemui sampah berserakan. Sementara, sampah non organik yang dibuang warga, saat ini lebih banyak dimusnahkan dengan cara di bakar.

Pernyataan tentang pembakaran sampah juga dikuatkan oleh kelompok ibu yang dilaksanakan pada tanggal 10/09/16 di rumah kopi Sarongge. Ibu Entin selaku warga Rt. 3, menyatakan bahwa Selama ini proses pemusnahan sampah yang dilakukan warga adalah dengan cara membakar sampah tersebut di pelataran rumah masing-masing.

Kreasi tikar dan jauhnya bahan baku

Yuyun, menceritakan pada kami bahwa tikar rajutan yang ia kerjakan telah memakan waktu selama 4 tahun. Dalam proses pembuatan tersebut, Yuyun memperkirakan bahwa ia telah berhasil memanfaatkan 30.000 lembar sachet kopi yang berasal dari pedagang kopi di ibu kota.

Baginya, waktu yang dia dedikasikan untuk merajut sachet kopi menjadi sebuah tikar merupakan hal yang patut dia teruskan. Dia berharap orang di kampungnya dapat ikut serta untuk menyumbangkan sampah sachet kopi, sehingga pemenuhan kebutuhan bahan baku berupa sampah sachet kopi bisa di dapatkan dari sekitar rumah.

Dalam pertemuan kelompok ibu, warga bersepakat bahwa keterlibatan pengolahan sampah dapat dimulai segera, salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah terlibat dalam penghitungan sampah harian rumah tangga yang akan diselenggarakan pada tanggal 30 September - 7 Oktober 2016.


Perhitungan sampah dengan melibatkam rumah tangga sebagai sumber sampah dapat memudahkan proses pengolahan lanjutan. Dalam diskusi ringan tersebut, para ibu menjelaskan bahwa sampah non organik yang mereka hasilkan saat ini yaitu berupa kantong kresek, kemasan detergent, penyedap rasa, kemasan minyak curah, Styrofoam, dll. Belom terkelola dengan baik. Selain itu, hasil dari rajutan yang dikerjakan ibu Yuyun belom terekspos dengan baik di lingkungan Rt 03.
Dengan Mengetahui Besaran volume sampah harian rumah tangga serta jenisnya, dapat memudahkan proses pengolahan sampah lanjutan.

Bucek Berharap warga di lingkungan rumahnya juga bisa terlibat dalam pengumpulan sampah harian. Untuk pemenuhan sampel uji coba penghitungan sampah rumah tangga. Bucek akan meminta keluarganya maupun saudaranya menjadi relawan tersebut.

Bucek menjelaskan bahwa sebelumnya di saung Sarongge pernah terbentuk Bank sampah Sarongge, namun kelompok pengelola tersebut kini berhenti karena sampah yang dikumpulkan oleh pelaksana Bank sampah tidaklah optimal dalam pengelolaannya.

Pengumpulan sampah yang di lakukan selama menyasar sampah yang memiliki nilai ekonomis, seperti sampah gelas plastik, botol plastik, kardus. Untuk sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis seperti plastik sachet, dll. Selama ini hanya dibakar untuk mengurangi jumlahnya di lokasi pengolahan sampah.

Problematika pengolahan sampah warga
Gerakan pengolahan sampah (Bank sampah)  warga bukan lah isu baru. Tumbuh dan mati suri gerakan ini pun sesuai dengan ritme program pengolahan sampah yang sudah berlangsung semenjak tahun 2008an, Bank sampah, memiliki problem yang sama secara keseluruhan, yaitu, pelayanan yang tidak maksimal baik berupa antar jemput sampah, niai pembagian keuntungan hasil penjualan yang rendah, inovasi pengolahan sampah, besaran volume sampah yang terkelola baik sampah nilai ekonomis, sampah bernilai kreasi serta sampah dengan potensi energi.

Jika kita berkaca pada program pengolahan sampah Sarongge, kendala terbesar bagi kelompok tersebut adalah pelayan antar jemput sampah, dan inovasi pengolahan sampah yang stag.


Sebaran warga desa Sarongge yang berada di kaki gunung Gede-Pangrango menjadi salah satu kendala bagi warga. Berdasar pernyataan warga Rt 03 pada saat pertemuan 10/09/2016, jarak saung Sarongge (lokasi Bank sampah) dengan sumber sampah yang berjauhan membuat pelayanan antar jemput serta pengangkutan sampah menjadi tidak optimal mengingat Rt 03 adalah salah satu Rt yang berada di ketinggian 1200 MDPL.
Efek samping dari rendahnya Inovasi pengolahan sampah di bank sampah Sarongge juga menjadi faktor lainnya dari penyebab mati suri Bank sampah Sarongge. Saat ini, inovasi pengolahan sampah plastik menjadi BBM tengah berkembang pesat di berbagai penjuru Nusantara, namun hal ini inovasi tersebut tidaklah sampai untuk menginspirasi kelompok pengelola Bank sampah Sarongge.
Dengan pengolahan sederhana, sampah plastik yang tidak memiliki nilai ekonomis dapat di sulap menjadi BBM, hasil dari proses pengolahan sampah plastik tersebut dapat digunakan kembali untuk penunjang operasional bank sampah.



Disqus Shortname

Comments system